Dalam dunia bisnis, sengketa atau perselisihan telah menjadi risiko melekat, yang karenanya pengaturan mengenai hal tersebut masuk dalam kerangka acuan setiap perjanjian bisnis. Sengketa, spesifiknya wanprestasi, pada umumnya masuk dalam ranah perdata. Namun, tidak jarang wanprestasi berubah menjadi pidana.
Melalui analisis komparasi tiga kasus nyata: Theranos, Autonomy, dan Sino-Forest, kita akan menyelami bagaimana investigasi dengan pendekatan digital, keuangan, dan hukum, mampu menyingkap kedok fraud yang disembunyikan dengan wanprestasi. Serta bagaimana meningkatnya nilai pengembalian kerugian oleh pelaku (perusahaan maupun individu pengendali), seiring dengan perkembangan hasil investigasi yang memperkaya opsi penyelesaian dengan memanfaatkan jalur perdata dan pidana.
Artikel ini akan membahas bagaimana investigasi forensik menjadi kunci keberhasilan dalam:
- proses asset recovery kasus fraud Theranos yang mencapai lebih dari 50%,
- penetapan hukuman penjara untuk tokoh kunci Autonomy meskipun skema fraud menggunakan teknik manipulasi laporan keuangan yang rumit, dan
- pembayaran ganti rugi atas fraud Sino-Forest, perusahaan kayu terbesar yang dulu pernah terdaftar di bursa saham Kanada, yang mencapai nilai miliaran juta dolar Amerika.
